Mandailing Natal– Persatuan Mahasiswa Madina (PMM) mendesak Polisi Militer Kodam (Pomdam) I/Bukit Barisan proaktif menyelidiki dugaan keterlibatan oknum anggota TNI yang menyokong (back up) aktivitas pertambangan ilegal di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara.
Koordinator PMM, Ahmad Zulhamdi Batubara, menuturkan bahwa oknum perwira berinisial Kapten AL yang bertugas di Den Intel Kodam I/BB diduga kuat terlibat. Oknum tersebut bahkan santer dikabarkan menebar ancaman kepada seorang wartawan.
“Tentara harusnya fokus pada pertahanan negara dan merangkul rakyat dalam menjaga teritorialnya, bukan malah menebar teror karena permainan ilegalnya terganggu. Kami meminta PM menyelidiki masalah ini secara tuntas,” ujar Hamdi, Selasa (28/4/2026).
Hamdi mengungkapkan, tambang ilegal yang menggunakan alat berat telah merusak ekosistem sejumlah sungai dan hutan lindung di Kabupaten Mandailing Natal. Aktivitas melanggar hukum tersebut juga dinilai menjadi pemicu utama bencana alam di wilayah tersebut.
“Tentara seharusnya ikut menjaga kekayaan alam Indonesia, bukan justru diduga ikut bermain dan melakukan intimidasi,” tambahnya.
Dugaan ini mencuat setelah sejumlah wartawan melakukan penelusuran terkait aktivitas tambang ilegal di lapangan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, nama Kapten AL disebut-sebut memiliki peran dalam menyokong kegiatan tersebut.
Upaya konfirmasi telah dilakukan oleh salah seorang jurnalis melalui sambungan telepon ke nomor Kapten AL. Namun, respons yang diterima justru dinilai bernada intimidasi dan tidak patut.
“Dia bilang, ‘Sudah keras tulangmu, bro?’. Begitu katanya,” ujar EN, wartawan yang mencoba melakukan konfirmasi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kodam I/Bukit Barisan maupun Pomdam I/BB belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan mahasiswa dan dugaan keterlibatan anggotanya tersebut. Redaksi masih terus berupaya mendapatkan konfirmasi dari pihak-pihak terkait.(R01)


