MADINA – Bendahara SATMA AMPI Mandailing Natal (Madina), Muhammad Saleh, menyoroti kembali maraknya aktivitas tambang ilegal di wilayah perbatasan Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Madina. Aktivitas tersebut diduga kembali beroperasi pascapenindakan oleh tim gabungan Polda Sumut beberapa waktu lalu.
Berdasarkan laporan masyarakat Muara Batang Angkola pada Kamis (14/5), diperkirakan terdapat sekitar 20 unit alat berat yang beroperasi di sejumlah titik. Mirisnya, aktivitas tersebut diduga berlangsung di lokasi yang sebelumnya pernah menjadi objek penangkapan.
Baca juga : Dugaan Penganiayaan di Tambang Ilegal, Satma AMPI Madina Desak Polisi Usut Tuntas
“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Lokasi yang sudah ditindak justru beroperasi kembali secara terang-terangan. Ini menimbulkan pertanyaan besar terkait efektivitas pengawasan di lapangan,” ujar Muhammad Saleh dalam keterangannya, Jumat (15/5).
Saleh juga menengarai adanya pembiaran akses masuk alat berat melalui wilayah Panabari. Ia mendesak aparat setempat, mulai dari tingkat desa hingga kelurahan, untuk tidak menutup mata terhadap mobilitas alat berat di wilayah mereka.
“Akses alat berat itu mencolok, tidak mungkin tidak diketahui. Harus diusut siapa yang mengarahkan mereka masuk. Jangan sampai ada oknum kepala desa yang justru ‘bermain mata’ dengan pemodal atau toke tambang,” tegasnya.
Menyikapi hal ini, SATMA AMPI Madina berencana melayangkan pengaduan masyarakat (dumas) resmi ke aparat penegak hukum (APH). Mereka menuntut lima poin utama, di antaranya:
- Penertiban total aktivitas tambang ilegal di perbatasan Tapsel-Madina.
Pengusutan aktor intelektual dan pemodal oleh Polda Sumut. - Pemeriksaan terhadap oknum aparat atau perangkat desa yang diduga terlibat.
Penyitaan alat berat dan penghentian aktivitas secara permanen. - Transparansi proses hukum serta perhatian pemerintah daerah terhadap dampak kerusakan lingkungan.
“Jika ada oknum yang membekingi, harus diproses hukum tanpa pandang bulu agar kepercayaan masyarakat tidak hilang,” pungkas Saleh. (***)





