BerandaArtikelMenumbuhkan Potensi ABK, Putri Dwi Salsabila Ajak Masyarakat Bangun Lingkungan Inklusif
CSS Marquee Effect Example

SELAMAT DATANG DI WEBSITE BERITA GARISDATA.COM IKUTI KAMI UNTUK MENGETAHUI PERKEMBANGAN BERITA DAERAH ANDA

Form Iklan
Form Iklan

Menumbuhkan Potensi ABK, Putri Dwi Salsabila Ajak Masyarakat Bangun Lingkungan Inklusif

MADINA, Garisdata.com – Setiap anak terlahir unik dengan potensi yang berbeda-beda. Sayangnya, di tengah masyarakat masih sering dijumpai pandangan sebelah mata terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK). Mengubah stigma ini menjadi kepedulian nyata kini menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama, mulai dari lingkungan keluarga hingga instansi pendidikan.

Putri Dwi Salsabila, mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAIN Mandailing Natal (Madina), menegaskan bahwa menerima perbedaan merupakan langkah awal yang krusial. Menurutnya, ABK memiliki hak yang setara untuk mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan yang layak tanpa adanya diskriminasi.

“Keluarga adalah fondasi utama. Orang tua harus menjadi lingkungan pertama yang memberikan rasa aman dan penerimaan, sehingga anak dapat membangun kepercayaan diri mereka,” ujar Putri dalam keterangan tertulisnya, Kamis, (29/10/2026).

Selain keluarga, sekolah memiliki andil besar melalui penerapan pendidikan inklusif. Pendekatan ini dinilai efektif karena tidak hanya berfokus pada nilai akademik, melainkan juga mengasah aspek sosial, emosional, komunikasi, dan kemandirian anak.

Dalam hal ini, guru PAUD dituntut untuk kreatif dan fleksibel dalam merancang metode pembelajaran. Aktivitas interaktif seperti bermain, bernyanyi, menggambar, bercerita, serta penggunaan alat permainan edukatif (APE) menjadi sarana yang sangat baik untuk menggali potensi anak. Guru juga diharapkan selalu mengapresiasi setiap progres sekecil apa pun yang ditunjukkan oleh anak.

Tidak kalah penting, penanaman nilai empati pada teman sebaya sejak usia dini juga menjadi kunci agar lingkungan belajar yang ramah dan saling menghormati dapat terwujud tanpa ada pembatasan sosial.
Ditinjau dari perspektif Islam, menghormati sesama manusia dan berlaku adil adalah kewajiban.

Perbedaan fisik maupun mental bukanlah alasan untuk merendahkan atau menjauhi seseorang. Nilai kasih sayang (rahmah) dan tolong-menolong (ta’awun) harus menjadi landasan utama dalam berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

Putri menambahkan bahwa pemenuhan hak anak-anak ini tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi dan kolaborasi kuat antara keluarga, guru, lembaga pendidikan, masyarakat, hingga pemerintah.

“Anak berkebutuhan khusus tidak membutuhkan belas kasihan yang berlebihan. Yang mereka perlukan adalah pemahaman, dukungan konkret, dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Mari kita terima tanpa membedakan, mendampingi tanpa merendahkan, dan memberi ruang tanpa membatasi potensi mereka,” pungkasnya.

Form Iklan Form Iklan
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Dukung Kami Di Google

Klik Disini

spot_img
spot_img
Example

PASANGKAN IKLAN ANDA

Hubungi Kami

spot_img

Most Popular