Agam, garisdata.com – Isu panas soal penyaluran bantuan pasca bencana galodo di Kabupaten Agam tak kunjung mereda, justru makin menebalkan kecurigaan publik. Yang paling memalukan dan patut dipertanyakan: Hingga detik ini, Bupati Agam sama sekali belum angkat bicara, belum memberikan klarifikasi resmi, dan memilih diam seribu bahasa, padahal sorotan tajam, keluhan warga, dan dugaan ketidakberesan makin terbuka lebar. Rabu 20/5-2026
Padahal, masalah ini sudah bukan rahasia lagi. Warga banyak yang berteriak, memprotes data penerima yang dianggap kacau, bantuan tak tepat sasaran, ada nama tak terdampak justru dapat jatah, sementara korban yang rumahnya rusak parah malah tak tersentuh sama sekali. Belum lagi fakta keras: Kadis Perkim terbukti menutup diri, bungkam, bahkan berani memblokir nomor awak media yang hanya ingin menunaikan tugas konfirmasi demi kepentingan publik. Ini bukti nyata ada yang ditutup-tutupi, ada yang tidak beres di sana.
Sebagai kepala daerah tertinggi, Bupati adalah pemegang tanggung jawab utama. Uraian masalah ini sudah sampai ke meja kerja beliau. Warga berhak tahu, rakyat berhak minta pertanggungjawaban. Tapi apa kenyataannya? Hening. Sunyi. Tak ada penjelasan, tak ada tanggapan, tak ada langkah tegas. Sikap diam ini sama artinya dengan membiarkan keraguan tumbuh, membiarkan asumsi buruk makin kuat, dan seolah membenarkan tudingan bahwa ada permainan di balik pengelolaan dana bantuan meant untuk korban bencana.
Sudah berkali-kali awak media berusaha menyampaikan surat permohonan wawancara, mencoba contact melalui jalur resmi, bahkan lewat perantara, tapi jawabannya sama: tidak ada keterangan. Padahal, uang yang dipakai itu uang rakyat, bantuan itu hak korban, dan transparansi itu kewajiban mutlak pejabat negara. Kalau pengelolaan sudah benar, rapi, dan sesuai aturan, kenapa harus takut bicara? Kenapa harus menghindar dan bungkam total?
Sikap ini sangat mencederai semangat pelayanan publik. Saat warga sedang berduka, sedang berjuang memulihkan kerusakan akibat bencana, pemerintah daerah malah terlihat asyik menutup-nutupi masalah. Diamnya Bupati seolah memberi izin pada oknum untuk terus berbuat semena-mena, dan membiarkan ketidakadilan terjadi di bawah tanggung jawabnya.
Kami tegaskan: Keheningan ini bukan jawaban. Kebisuan ini bukan cara memimpin. Justru diamnya Bupati makin menguatkan dugaan bahwa ada hal besar yang disembunyikan, ada penyimpangan yang takut terungkap, ada data yang jika dibuka akan mempermalukan birokrasi Kabupaten Agam.
Masyarakat sudah mulai marah, kepercayaan makin luntur. Sampai kapan Bupati akan terus bungkam? Sampai kapan rakyat harus menunggu kejelasan haknya? Apakah baru akan bicara kalau sudah ada pihak berwenang yang turun menyelidiki? Kami dan seluruh warga Agam menuntut: Segera buka data lengkap, jelaskan mekanisme, berikan klarifikasi gamblang, dan jangan lagi mempermainkan nasib korban bencana serta akal sehat publik.
Kami akan terus awasi, terus soroti, dan terus tanya sampai ada jawaban yang jelas. Ingat, kebenaran tak akan bisa ditutup selamanya. Dan sejarah membuktikan, pejabat yang memilih bungkam saat rakyat bertanya, biasanya punya hal yang malu-maluin jika terungkap.(tim)
Sumber : jaringanbintanginfo.com



