Mandailing Natal | Garisdata.com — Kondisi Sungai Rantopuran di Desa Gunung Tua Raya, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, dalam beberapa bulan terakhir menjadi sorotan warga. Pasalnya, dalam sepuluh hari terakhir, air sungai tersebut terus terlihat keruh meskipun tidak turun hujan.
Sungai Rantopuran selama ini menjadi sumber utama air bagi masyarakat di sejumlah desa, seperti Gunung Tua Julu, Gunung Tua Tonga, Gunung Tua Jae, Gunung Tua Lumban Pasir, Gunung Tua Penggorengan, hingga Iparbondar dan wilayah sekitarnya. Air sungai dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, cuci, kakus (MCK), hingga air minum.
Salah seorang warga, Marganti Nasution, menyampaikan bahwa kondisi ini sangat berbeda dari biasanya.
“Biasanya air sungai keruh hanya saat hujan, dan dua hari setelahnya sudah kembali jernih. Tapi sekarang, meski tidak hujan, air tetap keruh,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Ia menambahkan, air Sungai Rantopuran juga dialirkan ke fasilitas umum, termasuk bak penampungan air di masjid untuk keperluan wudhu. Kondisi keruh ini tentu sangat mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurut Marganti, warga telah melaporkan persoalan tersebut kepada para kepala desa di wilayah Gunung Tua Raya. Namun hingga kini, belum ada penanganan yang dirasakan signifikan.
Akibat kondisi tersebut, warga dari berbagai desa terpaksa antre mengambil air bersih dari sumur bor di Desa Gunung Tua Jae. Sementara itu, saluran air desa yang biasanya digunakan untuk kebutuhan konsumsi kini tidak lagi layak digunakan.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Guswara Hasibuan. Ia menilai kondisi sungai saat ini sudah sangat memprihatinkan dan perlu penanganan segera.
“Kami sudah melaporkan secara resmi kepada Pemuda Pancasila Kabupaten Mandailing Natal melalui sekretarisnya, Panri. Kami berharap ada investigasi ke bagian hulu sungai. Kami khawatir ada aktivitas ilegal seperti pembalakan liar yang menjadi penyebab,” ungkapnya.
Guswara juga mengingatkan bahwa Sungai Rantopuran pernah meluap hebat di masa lalu hingga menghanyutkan jembatan dan fasilitas warga. Karena itu, ia menilai kondisi saat ini tidak boleh diabaikan.
“Kami melaporkan ini karena minimnya respons dari pihak yang berwenang. Jangan sampai kejadian besar kembali terulang,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Pemuda Pancasila Kabupaten Mandailing Natal, Panri, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari warga terkait kondisi Sungai Rantopuran yang keruh.
Ia menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat.
(TIM)


