Garisdata.com | SINTANG, KALBAR – Sebuah babak baru dalam sejarah keluarga besar Macan Kaboe mulai terkuak. Pada hari Minggu,(15/2/2026) sekira pukul 14.00 WIB, dilakukan dokumentasi perdana silsilah garis keturunan Macan Kaboe yang selama ini tersimpan dalam memori kolektif keluarga. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengambil kembali hak atas tanah dan wilayah adat yang telah lama dipinjam namun belum dikembalikan.
Wilayah yang menjadi sorotan terletak di Dusun Sui Ringin, yang dikenal juga sebagai Sui Kapar, Temawai Rapuh, dan Kubur Sanai (Penam). Secara administratif, wilayah ini berada di Desa Anggah Jaya, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat.
Berdasarkan penuturan lisan yang turun-temurun, nama-nama tempat tersebut menyimpan sejarah kelam masa lalu: Sui Kapar: Bermakna tempat yang penuh bangkai manusia, Temawai Rapuh: Menggambarkan kondisi bangkai manusia yang berserakan. Penam: Merupakan bahasa kuno untuk kuburan atau tempat perhentian terakhir. Di sinilah Macan Kaboe tercatat terakhir kali menghirup udara dunia pada 1 Januari 1817, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Uniknya, perjuangan klaim hak ini tidak hanya didasarkan pada dokumen tertulis, tetapi juga pada “saksi hidup” yang tidak bisa bicara namun tetap tegak berdiri di atas tanah tersebut. Tanaman-tanaman tua ini menjadi bukti kepemilikan turun-temurun: Pohon Cempedak, Tengkawang, Kemantan dan Entawak.

Pohon-pohon ini dianggap sebagai tanda batas dan bukti kelola lahan yang dilakukan oleh leluhur mereka di masa lampau.
Silsilah ini diabadikan oleh Petrus, yang merupakan keturunan langsung dari garis utama. Berikut adalah alur keturunan yang didokumentasikan: Macan Kaboe (Istri:Dayang Putung) Melahirkan Entilah (Istri: Rupan) Melahirkan Timak (Istri:Minak) Mempunyai anak Ungai (Istri: Bulan) Melahirkan Renik (Suami: Alam) Melahirkan Talin (Istri: Redinah) Melahirkan Petrus (Istri: Rahel Maryani) Generasi berikutnya: Ardiano Petra, Ardilo Petra, dan Ardino Petra.
Petrus menegaskan bahwa ini barulah satu garis keturunan yang tertera, sementara masih banyak anggota keluarga besar lainnya yang tergabung dalam persatuan keluarga Macan Kaboe.
Melalui dokumentasi ini, keluarga besar Macan Kaboe menyatakan sikap untuk bersatu menjaga marwah leluhur dan memperjuangkan apa yang menjadi hak mereka. Mereka berharap sejarah ini dapat diakui dan keadilan atas lahan yang telah lama berpindah tangan dapat segera terselesaikan.





