“MELAWAN PENJAJAH BANGSA SENDIRI: Sebuah Ototritik atas Nasib Republik”
Oleh: H. Syahrir Nasution, SE., MM.
Managing Director: Political & Economic Consulting Institute (PECI) – Indonesia
Topik ini menyeruak, menyentuh kalbu yang jernih, dan bersemi di relung sanubari setiap manusia yang beriman serta ikhlas.
Lazimnya, penjajah dan imperialisme hadir di suatu negeri dalam wujud bangsa asing yang membawa agenda tertentu. Sejarah mencatat bagaimana Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun dan Jepang selama 3,5 tahun. Motivasi mereka untuk menguasai kekayaan bumi pertiwi sangatlah jelas.
Sebagai bangsa yang ditindas, kita melakukan perlawanan jiwa dan raga dengan sungguh-sungguh. Meski perjuangan saat itu terasa tidak seimbang secara militer, kita memiliki kekuatan lain: persatuan yang dibarengi ketulusan dan keikhlasan. Lahirlah perasaan senasib sepenanggungan, semangat sama rasa dan sama rata, yang diperkuat dengan doa bersama serta rida Tuhan Yang Maha Kuasa.
Perjuangan tersebut tidak sia-sia. Kita berhasil mencapai tujuan bersama, yakni kemerdekaan yang diharapkan membawa kesejahteraan adil dan beradab bagi seluruh anak bangsa.
Namun faktanya, pasca-kemerdekaan hingga hari ini, cita-cita luhur tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh rakyat. Mengapa hal ini bisa terjadi di alam kemerdekaan yang telah ditebus dengan tumpahan darah para pejuang dan Founding Fathers kita—Soekarno, Hatta, Syahrir, dan ribuan pahlawan lainnya?
Dalam kajian sejarah dan garis perjuangan, fenomena ini terjadi karena munculnya banyak “Pengkhianat Bangsa”. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah merasakan pahit getirnya melawan penjajah, namun kini justru tampil paling depan untuk “menikmati kue kemerdekaan” tanpa pernah meneteskan darah bagi bumi pertiwi.
Hal ini pernah disinggung oleh sesepuh penerus perjuangan Bung Syahrir, yakni Bung Soebadio Sastrosatomo (Om Kiyuk), dalam buku kecilnya yang penuh makna dan cambukan keras: Ruwatan Republik.
Ruwatan Republik mengajarkan kita untuk berpikir kritis. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang memahami hak dan kewajibannya terhadap negeri. Kemerdekaan harus diisi dengan penuh tanggung jawab, menjalankan amanat konstitusi pada koridornya, serta tunduk pada ajaran agama masing-masing. Di sini, faktor agama tidak bisa ditinggalkan dalam menjalankan roda negara karena kita tidak menganut paham sekularisme.
Ironisnya, saat ini banyak kejanggalan terjadi. Para pengkhianat bangsa tidak menyadari bahwa tindakan mereka justru menjerumuskan negara ke lembah kehancuran. Mereka rela menjadi “budak piaraan” kepentingan asing demi kesenangan temporer di dunia yang fana ini.
Maka, benarlah apa yang dikatakan para pejuang dan bapak bangsa: Melawan penjajah asing di masa lalu jauh lebih mudah daripada melawan pengkhianat dari bangsa sendiri di masa sekarang. Mereka berselimut identitas bangsa Indonesia, namun hati nuraninya “berkostum” asing karena telah disumpal oleh kenikmatan materi semata.
(M.SN)
Baca Artikel Lainnya:Â
Pilkada Tidak Langsung dan Ancaman Neosentralisme: Sebuah Gugatan Struktur Kekuasaan
Kepemimpinan Indonesia Tidak Cukup dengan Ilmu, Harus Berakar pada Akhlak Budi Pekerti





