Kepemimpinan Indonesia Tidak Cukup dengan Ilmu, Harus Berakar pada Akhlak Budi Pekerti

Oleh : H. Syahrir Nasution S.E, M.M, Gelar Sutan Kumala Bulan

Wacana kepemimpinan nasional kembali mengemuka di tengah berbagai tantangan bangsa. Tidak sedikit pihak menilai bahwa Indonesia tidak cukup hanya dipimpin oleh sosok yang unggul secara intelektual dan akademik, tetapi lebih dari itu harus dipimpin oleh pemimpin yang memiliki akhlak budi pekerti dan integritas moral yang kuat.

Kepemimpinan suatu negara, terlebih Indonesia dengan keberagaman budaya, agama, dan latar belakang sosial, menuntut lebih dari sekadar kecakapan ilmu pengetahuan. Pemimpin sejati adalah mereka yang memimpin dengan akhlakul karimah, yaitu akhlak mulia yang bersih dari kepentingan nafsu duniawi dan praktik-praktik kotor yang merusak sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhlak, menurut pandangan nilai keimanan, lahir dari iman yang jujur dan bersih. Ia tumbuh dari ketulusan, keikhlasan, serta pengabdian kepada Allah SWT, tanpa dibarengi maksud tersembunyi yang mengarah pada kepentingan pribadi maupun kelompok. Dari sinilah lahir kepemimpinan yang berpijak pada hati nurani, keadilan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi.

Pemimpin yang berakhlak tidak hanya mengandalkan logika dan kekuasaan, tetapi senantiasa melibatkan Tuhan Sang Khalik dalam setiap keputusan yang diambil. Kepemimpinan semacam ini bukan hanya mengayomi manusia, tetapi juga menjaga harmoni seluruh makhluk Tuhan—hewan, tumbuhan, dan alam semesta—yang berada di bumi ciptaan-Nya.

Ilmu pengetahuan, pada hakikatnya, diperoleh manusia seiring pertumbuhan dan kedewasaan intelektual. Namun akhlak budi pekerti justru dibentuk jauh lebih awal. Ia tumbuh sejak manusia berada dalam buaian, diasuh oleh orang tua, hingga mencapai usia akil balig. Bahkan nilai-nilai akhlak telah mulai terbentuk sejak dalam kandungan ibu, dipengaruhi oleh pola asuh, lingkungan, serta asupan makanan yang halal dan baik untuk pertumbuhan jasmani dan rohani.

Oleh karena itu, pembangunan bangsa tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan kemajuan teknologi semata. Pendidikan akhlak dan budi pekerti harus menjadi fondasi utama dalam mencetak calon pemimpin masa depan Indonesia. Tanpa akhlak, ilmu dapat kehilangan arah; tanpa moral, kekuasaan berpotensi menjadi alat penindasan.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bersih hati, jujur iman, tulus dalam pengabdian, dan kuat dalam menjaga amanah rakyat. Kepemimpinan yang demikian diyakini mampu membawa bangsa ini menuju keadilan sosial, kesejahteraan, serta keberkahan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Artikel Lainnya:

IKLAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini