Garisdata.com l Mandailing Natal, Sumatera Utara — Jembatan beton (Biasa di sebut warga sekitar dengan sebutan Jembatan Langgune) yang berada di Desa Perdamean Baru, Kecamatan Natal, penghubung utama antara Kecamatan Natal dan Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, ambruk pada Kamis sore (15/1/2025) sekira pukul 16.00 WIB.

Ambruknya jembatan ini membuat akses vital antar dua kecamatan di wilayah Pantai Barat Madina lumpuh total. Seluruh arus lalu lintas, baik kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas.

Salah seorang warga Kecamatan Natal yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Redaksi Garisdata.com, peristiwa ambruknya jembatan terjadi sesaat setelah sebuah truk trailer bertonase berat melintasi jembatan tersebut.

“Sekira pukul 16.00 WIB sebuah truk trailer melintasi jembatan itu. Truk bertonase berat (overload) seperti itu diduga tidak mampu ditopang oleh konstruksi jembatan beton berkapasitas kecil yang diperuntukkan bagi Roda Empat maupun Roda Enam, sehingga jembatan patah dan ambruk,” ungkapnya

Menurut keterangan warga, truk trailer tersebut bermuatan material proyek, yang diduga berupa pipa spiral baja.

“Truk trailer bermuatan pipa spiral baja itu diduga untuk proyek jembatan penghubung menuju Pelabuhan Palimbungan Ketek Batahan yang diduga dikerjakan PT BKN,” ujarnya

Jembatan yang ambruk merupakan jembatan lama dengan kapasitas terbatas, diduga ada pembiaran di jalur Natal–Batahan bisa dilintasi kendaraan bertonase besar (Overload) tanpa pembatasan yang jelas.

Ironisnya, ketika dikonfirmasi terkait peristiwa ini, Kepala Pos Lalu Lintas (Kapos Lantas) setempat mengaku belum mengetahui secara detail kejadian ambruknya jembatan.

“Kami belum mengetahui kronologi lengkap kejadian tersebut,” ujar Kapos Lantas singkat

Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada pengawas pelaksana proyek berinisial EP, melalui pesan WhatsApp ke nomor 0812-68xx-x410, untuk memastikan kepemilikan material yang diangkut truk trailer tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, pesan telah terbaca (centang biru) tetapi belum mendapat jawaban atau klarifikasi resmi.

Disisi lain, konfirmasi kepada Humas perusahaan terkait hanya mendapat jawaban singkat melalui pesan WhatsApp.

“Iko lagi mendatangkan alat berat.” Pernyataan tersebut, dalam bahasa daerah setempat, diartikan “sekarang sedang mendatangkan alat berat”, sebagaimana disampaikan oleh Irfansah.

Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut untuk kepentingan apa alat berat tersebut didatangkan, apakah untuk penanganan darurat jembatan ambruk atau pekerjaan proyek lain.

Minimnya penjelasan resmi dari pihak-pihak terkait memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Apalagi, ambruknya jembatan ini berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, distribusi barang, dan mobilitas warga di dua kecamatan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah maupun instansi teknis terkait penyebab pasti ambruknya jembatan, evaluasi kapasitas beban, serta langkah tanggap darurat yang akan ditempuh untuk memulihkan akses Natal–Batahan.

Peristiwa ini kembali menyorot lemahnya pengawasan infrastruktur, pengaturan kendaraan bertonase berat, serta keterbukaan informasi publik dalam setiap insiden yang menyangkut keselamatan warga. (Tim /Red)

IKLAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini