Mandailing Natal – Sinyal darurat narkoba kini benar-benar menyasar jantung pendidikan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Penemuan alat hisap narkotika jenis sabu, atau yang akrab disebut bong, di area salah satu sekolah di Kelurahan Tapus, Kecamatan Lingga Bayu, memicu keresahan hebat di tengah masyarakat.
Temuan ini pertama kali terungkap setelah warga melaporkan adanya alat konsumsi narkotika yang tergeletak di dalam fasilitas pendidikan tersebut. Kabar ini pun mendadak viral di media sosial dan menjadi perbincangan hangat dalam beberapa hari terakhir, mempertegas dugaan bahwa zona sekolah bukan lagi tempat yang sepenuhnya steril dari jeratan narkoba.
“Ini sudah tahap mengkhawatirkan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak, justru diduga menjadi lokasi aktivitas penyalahgunaan narkoba,” ungkap seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan ketakutan para orang tua siswa.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa peredaran dan penggunaan narkotika di wilayah Lingga Bayu diduga berlangsung secara terbuka tanpa hambatan berarti. Hal ini memicu desakan publik agar Polres Mandailing Natal, Polsek Lingga Bayu, dan Badan Narkotika Nasional (BNN) segera mengambil langkah konkret.
Praktisi hukum, Muhammad Sudirmin Nasution, menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara menyeluruh untuk memutus rantai peredaran hingga ke akar-akarnya.
“Kepolisian dituntut tidak hanya responsif, tetapi juga progresif. Penelusuran harus menyasar hingga ke pemasok dan jaringan distribusinya, bukan hanya pengguna,” tegas Sudirmin dalam keterangannya.
Meski desakan publik menguat, aparat penegak hukum diharapkan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan melakukan penyelidikan profesional guna membuktikan fakta hukum di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Lingga Bayu masih menunggu pernyataan resmi dan tindakan nyata dari kepolisian terkait hasil penyelidikan temuan benda mencurigakan tersebut. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi Pemerintah Daerah bahwa tanpa langkah sistemik, masa depan generasi muda Madina kini berada di ujung tanduk akibat ancaman narkotika yang mulai merambah ruang kelas.






